<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>wastu</title>
	<atom:link href="http://wastu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wastu.wordpress.com</link>
	<description>Just another Wordpress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 31 Jan 2008 05:20:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='wastu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/e043219b357e0a7379ca2944f5736cbb?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>wastu</title>
		<link>http://wastu.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Apa Saya Tak Berperikemanusiaan?</title>
		<link>http://wastu.wordpress.com/2008/01/28/hello-world/</link>
		<comments>http://wastu.wordpress.com/2008/01/28/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 09:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wastu</dc:creator>
				<category><![CDATA[unek-unek]]></category>
		<category><![CDATA[Soeharto]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Setiap ada kematian, pasti ada duka. Saya berduka untuk sepupu pembantu kami yg dua hari lalu kehilangan bayi dalam kandungannya karena terlalu lelah melakukan perjalanan dengan bus ekonomi ke Jawa. Saya juga berduka ketika ketika 4 hari lalu, 2 orang warga kampung sebelah meninggal kena petir. Tapi sejujurnya, mengetahui Soeharto meninggal Minggu siang, tidak ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wastu.wordpress.com&blog=259484&post=1&subd=wastu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Setiap ada kematian, pasti ada duka. Saya berduka untuk sepupu pembantu kami yg dua hari lalu kehilangan bayi dalam kandungannya karena terlalu lelah melakukan perjalanan dengan bus ekonomi ke Jawa. Saya juga berduka ketika ketika 4 hari lalu, 2 orang warga kampung sebelah meninggal kena petir. Tapi sejujurnya, mengetahui Soeharto meninggal Minggu siang, tidak ada duka muncul di hati saya. Tidak juga ada syukur. Biasa saja.</p>
<p>Apa saya tak berperikemanusiaan? Entahlah.</p>
<p><span id="more-1"></span>Saya memang tidak pernah menjadi korban langsung dari kekejaman Soeharto. Yang saya ingat ketika Soeharto sedang jaya-jayanya, menyebut namanya dalam konotasi negatif pun harus bisik-bisik. Lebih menakutkan daripada bicara tentang makhluk halus, yg bisa dengan bebas kita lakukan di ruang-ruang terbuka.</p>
<p>Saya pun sudah terjebak dalam sistem bobrok yg tercipta selama rezim Soeharto berkuasa. Dua puluh ribu rupiah uang damai di jalan jauh lebih mudah ketimbang bolak-balik ke kantor polisi dan pengadilan tilang yang pernah saya alami, yang ujung-ujungnya juga harus kasih uang pelicin.</p>
<p>Saya pasti akan lebih memendam marah dan tetap terus menuntut keadilan, jika saya atau keluarga saya termasuk yang menjadi korban langsung rezim Soeharto. Seperti yang dialami oleh beberapa kawan saya pada peristiwa 5 Agustus di ITB, seperti keluarga-keluarga korban peristiwa 27 Juli, seperti keluarga korban peristiwa pencaplokan Timor-Timur tengah tahun 70-an, seperti sebagian besar etnis Tionghoa yang dipinggirkan selama Soeharto berkuasa, seperti keluarga dari ratusan ribu orang yang dibunuh saat Soeharto mulai berkuasa, seperti hampir semua petani-nelayan-buruh yang (di)miskin(kan) dan (di)bodoh(kan) selama dia berkuasa, seperti orang-orang yang dihilangkan menjelang kejatuhan Soeharto, seperti ratusan atau mungkin ribuan peristiwa lain yang menunjukkan bahwa kita pernah mengalami (dan masih merasakan dampak) zaman kegelapan. Salah satu yang terlihat jelas saat ini adalah pelaksanaan pilkada.</p>
<p>Apakah hal berbeda akan terjadi jika Soekarno digantikan bukan oleh Soeharto? Belum tentu juga. Tapi, yang pasti semua kegelapan di atas, terjadi pada saat rezim Soeharto berkuasa.</p>
<p>Soeharto Bapak Pembangunan? Ya, Bapak Pembangunan keluarga dan kroni-kroninya.</p>
<p>Apa saya tak berperikemanusiaan? Terserah. Lantaklah. Prek.</p>
<p>horas!<br />
erwin</p>
<p>nb.<br />
Matikan TV hari-hari ini jika Anda termasuk orang yang mudah terpengaruh. Ulasan-ulasan di TV sudah sangat bias dan tercemar. Semoga perburuan harta Soeharto (dan keluarga serta kroninya) yang dilakukan Bung Fadjroel dkk akan terus dilakukan.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wastu.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wastu.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wastu.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wastu.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wastu.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wastu.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wastu.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wastu.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wastu.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wastu.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wastu.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wastu.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wastu.wordpress.com&blog=259484&post=1&subd=wastu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wastu.wordpress.com/2008/01/28/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eda7cfef73b0b0b174bf1883a35f5f4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wastu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Kampung Kami Diserbu Anak Kota</title>
		<link>http://wastu.wordpress.com/2008/01/11/ketika-kampung-kami-diserbu-anak-kota/</link>
		<comments>http://wastu.wordpress.com/2008/01/11/ketika-kampung-kami-diserbu-anak-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jan 2008 03:18:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wastu</dc:creator>
				<category><![CDATA[gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[tani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wastu.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini rumah kami dikunjungi 46 murid sebuah SMP terkenal di kawasan Menteng Jakarta. Bulan lalu beberapa gurunya datang dan minta agar murid-muridnya diperkenalkan pada apa yang namanya &#8220;ekonomi pertanian&#8221; untuk pelajaran ekonomi dan sedikit praktik tentang budidaya kaktus utk pelajaran biologi. Saya menyanggupinya.
Saya menyambut kedatangan mereka di lapangan desa karena bis besar yang mengangkut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wastu.wordpress.com&blog=259484&post=4&subd=wastu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pagi ini rumah kami dikunjungi 46 murid sebuah SMP terkenal di kawasan Menteng Jakarta. Bulan lalu beberapa gurunya datang dan minta agar murid-muridnya diperkenalkan pada apa yang namanya &#8220;ekonomi pertanian&#8221; untuk pelajaran ekonomi dan sedikit praktik tentang budidaya kaktus utk pelajaran biologi. Saya menyanggupinya.</p>
<p>Saya menyambut kedatangan mereka di lapangan desa karena bis besar yang mengangkut mereka hanya bisa berhenti di sana. Dan kamipun berjalan kaki sekitar 600 m ke rumah.Sampai di rumah, ternyata di pinggir rumah kami sudah ada sekitar 5 orang pedagang asesoris a la Lembang dan pedagang stroberi. Astaga! Tahu dari mana mereka? Saya tidak pernah menceritakan rencana ini ke warga kampung kami. Untuk info seperti ini mereka sangat gesit. Entah bagaimana caranya. Jadilah rumah kami pagi ini seperti objek wisata.</p>
<p><span id="more-4"></span>Saya sadar yang akan diajak berdiskusi adalah anak-anak SMP. Dengan mahasiswa mungkin lebih mudah. Saya harus menjelaskan berbagai pengalaman yang saya alami menyangkut pertanian, dalam bahasa dan paparan yang sederhana. Untuk lebih afdol saya panggil seorang petani sungguhan yang tidak saya instruksikan apa-apa sebelumnya agar anak-anak itu memperoleh jawaban yang apa adanya.</p>
<p>Saya mulai dengan pertanyaan: &#8220;Siapa di sini yang berasal dari keluarga petani?&#8221; Tidak satupun anak mengangkat tangannya. &#8220;Ayahnya? Kakeknya?&#8221; Tidak satupun. &#8220;Siapa yg ingin jadi petani?&#8221; Juga tidak satupun tangan terangkat. Saya tanya kenapa tidak ada yg ingin jadi petani? Mereka diam.</p>
<p>Setelah menjelaskan soal Indonesia yang subur, banyak petaninya, komoditas-komoditas pertanian, logika sederhana bagaimana banjir di kota Bandung terjadi, dll, saya pun bertanya kepada mereka: &#8220;Pernah dengar kata tengkulak? Apa yang ada di kepala kalian dengar kata itu.&#8221;Beberapa anak mengacungkan tangan dan menjawab. Semuanya berkonotasi negatif. Saya mencoba menetralkan posisi bandar, menjelaskan mekanisme distribusi dalam perdagangan yang tidak terhindarkan, juga mekanisme pasar menyangkut penawaran dan permintaan. Mereka paham, karena seingat saya mekanisme pasar dulu juga saya ketahui pada saat SMP.</p>
<p>Saya lalu memanggil Pak Yaya, petani di kampung kami. &#8220;Pak Yaya ini petani beneran, bukan spt saya yang petani jadi-jadian karena saya jarang mencangkul, paling cuma angkut hasil panen, atau beli pupuk. Beda dengan Pak Yaya yang sudah 40 tahun bertani. Namun saat ini ia tidak punya lahan (tentu sebelumnya, sebelum mengucap itu saya bilang &#8220;punten, ya, Pak Yaya&#8221;). Ada banyak petani seperti Pak Yaya.&#8221;Pak Yaya saat ini sedang menanam 4000 kembang kol di lahan pinjaman.<br />
&#8220;Pak, dari mana dapat modal untuk tanam? Berapa modalnya?&#8221;<br />
&#8220;Dari bandar, pinjaman dua juta&#8221;.<br />
&#8220;Kalau misalnya nanti harga kembang kol lumayan, 2000 sekilo, bandar yang pinjamin Pak Yaya uang, akan beli seharga berapa?&#8221;<br />
&#8220;Paling 1500 sekilo.&#8221;<br />
Anak-anak itu pun bereaksi. &#8220;Kok gitu?&#8221; gumam seorang anak perempuan yang manis sambil mengeryitkan dahi.<br />
&#8220;Kalau misalnya nanti harga hancur sampai 300 sekilo, dan modal nggak kembali, terus&#8230;?&#8221; tanya saya mengambang.<br />
&#8220;Ya, Pak Yaya tetap harus membayar utang dua juta itu.&#8221;</p>
<p>Anak perempuan yang manis itu pun berkomentar, &#8220;Ih! jahat&#8221; [Kalau saya menikah lebih cepat, dan Domu sudah seumuran dengan dia, tentu saya akan anjurkan Domu tanya nomor telepon anak manis itu.] Anak-anak lainnya pun bereaksi lebih kencang. Saya kira mereka menangkap apa yang terjadi: ketidakadilan.</p>
<p>Berbagai persoalan mengenai pertanian pun saya perbicangkan dengan mereka. Secara sederhana dan santai, karena saya tahu usia 13 tahun itu baru mulai remaja. Di kepala yang perempuan mungkin adalah HP lucu-lucu dan buku <i>chicklit</i>, di kepala laki-laki seumur itu mungkin adalah bayangan tentang perempuan-perempuan SMA yang cantik-cantik. Tapi anak-anak itu sangat cerdas. Terbukti ketika pada sejam evaluasi akhir, saya lakukan tanya jawab berhadiah dengan mereka. Berhadiah kartu pos arsitektur Mangunwijaya.</p>
<p>Puluhan pertanyaan &#8220;makro&#8221; dan &#8220;mikro&#8221; bisa mereka jawab. Rebutan malah, suara merekapun keras-keras padahal sedang Jumatan di masjid depan. Saya kaget, apa yang dimakan oleh anak-anak ini sehingga mereka begitu kuat daya ingat dan bagus ketika berkomentar. Sampai jarak tanam kol mereka ingat 60 cm, bahwa ketidakpastian soal harga jual membuat petani sangat sulit, bahwa plastik ultraviolet pada atap greenhouse gunanya untuk mengalirkan panas cahaya matahari, dst. dst. Dua ratus lembar kartu pos pun mengalir dengan lancar. Nyaris semua dapat.</p>
<p>Semula saya khawatir ada banyak hal yang mungkin &#8220;terlalu berat&#8221; saya obrolkan dengan anak-anak cerdas itu. Sebelumnya saya sudah mewanti-wanti istri untuk mengingatkan saya jika saya terlalu serius atau materi yang dibicarakan terlalu berat utk mereka. Ternyata tidak sekalipun ia memberikan tanda-tanda itu.<br />
[Saya teringat omongan Ricard, adik saya, sekitar 10 tahun lalu: "Ya, susahlah anak petani atau nelayan di pelosok Toba sana bersaing dengan anak-anak kota yang lancar berinternet, enam bulan sekali liburan jauh bahkan ikut "kursus musim panas" di luar negeri".]</p>
<p>Pada akhir pertemuan, sekitar pukul 2 siang&#8211;karena mereka akan mengunjungi Studio Nyoman Nuarta setelah dari tempat kami&#8211;saya memberikan pesan yang moga-moga saja diingat minimal oleh seorang anak: &#8220;Kalau nanti kalian makan nasi rames yang isinya nasi, sayur, ikan, sambal, tahu, dll. mudah-mudahan sekarang lebih mengerti bahwa banyak kejadian yang tidak sederhana untuk menghasilkan sepiring nasi rames itu.&#8221;</p>
<p>Barusan saya bicara dengan istri, &#8220;Kalau sedari anak-anak dikenalkan pada kenyataan-kenyataan seperti persoalan pertanian, dan pengenalan itu berkelanjutan termasuk selama mereka kuliah, kita akan melihat orang-orang pintar yang benar-benar hebat. Bisa melihat persoalan nyata di masyarakat dan mempunyai kepintaran orisinal untuk mencoba menyelesaikan permasalahan itu, dalam skala masing-masing.&#8221;</p>
<p>horas!<br />
erwin</p>
<p>nb.<br />
Saya selalu memberitahu kata kunci &#8220;punten&#8221; kepada para tamu yang bermain ke tempat kami. Kata ajaib itu bisa digunakan ketika berpapasan dengan warga kampung. Namun ada yang menggelikan terjadi tadi. Seorang petani melewati barisan anak-anak yang sedang berdiri mendengar penjelasan saya, dan yang terjadi adalah anak-anak itu bergantian bilang &#8220;punten&#8221;. Hehehe&#8230; harusnya petani yang lewat itu yg bilang punten, dan orang yang dilewati menjawab: &#8220;mangga&#8221;. Mungkin saya kurang lengkap memberikan penjelasan.</p>
<p>Sebenarnya ada satu lagi yang sangat lucu. Jawaban seorang anak atas pertanyaan saya ketika di kebun menjelaskan proses penanaman kol. Lucunya POL. Jarang saya ketawa selama itu. Tapi, asli saya lupa apa. Aduh, gatel banget nih otak kalo nggak ketemu.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wastu.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wastu.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wastu.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wastu.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wastu.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wastu.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wastu.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wastu.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wastu.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wastu.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wastu.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wastu.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wastu.wordpress.com&blog=259484&post=4&subd=wastu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wastu.wordpress.com/2008/01/11/ketika-kampung-kami-diserbu-anak-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eda7cfef73b0b0b174bf1883a35f5f4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wastu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Susu Sapi Makin Marak</title>
		<link>http://wastu.wordpress.com/2008/01/07/susu-sapi-makin-marak/</link>
		<comments>http://wastu.wordpress.com/2008/01/07/susu-sapi-makin-marak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jan 2008 03:12:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wastu</dc:creator>
				<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[sapi]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>
		<category><![CDATA[tani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wastu.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini dari kampung sebelah terdengar gosip baru. Sebuah kelompok usaha besar yg membutuhkan susu dalam jumlah besar untuk produksinya, akan menyaingi kebaradaan koperasi susu (satu-satunya?) yang sudah lama berlenggang di Lembang. Dengar-dengar terobosan ini tercipta karena suplai susu lokal ke kelompok usaha itu dibatasi sehingga mereka harus mengimpor (lebih mahal!)
Tengok apa yang ditawarkan: Jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wastu.wordpress.com&blog=259484&post=3&subd=wastu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hari ini dari kampung sebelah terdengar gosip baru. Sebuah kelompok usaha besar yg membutuhkan susu dalam jumlah besar untuk produksinya, akan menyaingi kebaradaan koperasi susu (satu-satunya?) yang sudah lama berlenggang di Lembang. Dengar-dengar terobosan ini tercipta karena suplai susu lokal ke kelompok usaha itu dibatasi sehingga mereka harus mengimpor (lebih mahal!)</p>
<p>Tengok apa yang ditawarkan: Jika mereka mau pindah setor penjualan susu ke usaha milik kelompok usaha besar itu, (calon) peternak ditawari pinjaman Rp 25 juta untuk membeli 2 ekor sapi perah + membuat/menambah kandangnya. Mereka hanya diwajibkan mencicil pembayaran pinjaman itu hanya dengan membayar 6 liter susu per hari selama 5 tahun. Susu sapi lebihnya yang sekitar 25 liter per hari, tetap dibayar normal. Tentu ini berita baik untuk peternak sapi, apalagi peternak gurem.</p>
<p><span id="more-3"></span>Tambahan daya tarik lainnya: harga susu yang dibeli Rp 200/liter lebih tinggi ketimbang yg ditawarkan koperasi saat ini. Dan dukungan makanan tambahan sapi (mako) dijual dengan harga lebih murah sekitar 20%-nya.Jika dirinci, maka dari 25 juta pinjaman dari kelompok usaha itu akan kembali dalam bentuk cicilan harian sebesar Rp 3500/liter x 1825 hari x 6 liter = Rp 38.325.000. Ini kalau harga susu dihitung tetap. Bukan kelebihan sekitar 53% dalam 3 tahun itu yang terpenting, tapi terpenuhinya kebutuhan susu kelompok usaha itu, dari pada mereka harus mengimpor dari Australia yang katanya seharga Rp 5000/liter.</p>
<p>Semoga saja gosip itu benar dan akan terwujud. Begitu dong kalau cari terobosan usaha: Memanfaatkan potensi kelompok gurem dengan memberikan keadilan dan keuntungan kepada mereka.</p>
<p>Mari berbisnis dengan memberikan keadilan kepada semua pelaku.</p>
<p>horas!<br />
erwin</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wastu.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wastu.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wastu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wastu.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wastu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wastu.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wastu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wastu.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wastu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wastu.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wastu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wastu.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wastu.wordpress.com&blog=259484&post=3&subd=wastu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wastu.wordpress.com/2008/01/07/susu-sapi-makin-marak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eda7cfef73b0b0b174bf1883a35f5f4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wastu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cep, Hari Ini Tomat Kita Tidak Usah Dipetik&#8230;.</title>
		<link>http://wastu.wordpress.com/2008/01/03/cep-hari-ini-tomat-kita-tidak-usah-dipetik/</link>
		<comments>http://wastu.wordpress.com/2008/01/03/cep-hari-ini-tomat-kita-tidak-usah-dipetik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 17:20:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wastu</dc:creator>
				<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[bandar]]></category>
		<category><![CDATA[tani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wastu.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Cep, hari ini tomat kita tidak usah dipetik, ya&#8230;. Biarkan saja di kebun.&#8221;
&#8220;Kenapa, Mang Tisman?&#8221; tanya saya.
&#8220;Bandar cuma mau beli tomat sepuluh ribu sepeti. Sepeti isinya 35 kg. Harga petinya saja sudah tujuh ribu. Ongkos petik dan bawa ke mobil 100 sekilo. Jadi kalo kita petik kita malah harus nombok.&#8221;
&#8220;Lho, Mang. Kakak saya baru beli [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wastu.wordpress.com&blog=259484&post=5&subd=wastu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&#8220;Cep, hari ini tomat kita tidak usah dipetik, ya&#8230;. Biarkan saja di kebun.&#8221;<br />
&#8220;Kenapa, Mang Tisman?&#8221; tanya saya.<br />
&#8220;Bandar cuma mau beli tomat sepuluh ribu sepeti. Sepeti isinya 35 kg. Harga petinya saja sudah tujuh ribu. Ongkos petik dan bawa ke mobil 100 sekilo. Jadi kalo kita petik kita malah harus nombok.&#8221;<br />
&#8220;Lho, Mang. Kakak saya baru beli tomat di supermarket 7000 sekilo. Ibu saya beli di pasar 4000 sekilo.&#8221;</p>
<p><span id="more-5"></span>***</p>
<p>Kemarin pagi, Mang Tisman, petani mitra saya menelepon memberi tahu berita ini. Ah, akhirnya saya mengalami lagi keanehan itu. Sepuluh kali panen pertama selama sebulan terakhir saya alami harga yang cukup baik, 2000-2400 rupiah per kg. Jauh di atas modal yang sekitar 800 rupiah per kg. Ketika itu harga di pasar tradisional sekitar 4000-6000 rupiah per kg. Kami&#8211;saya dan Mang Tisman&#8211;memang masih untung karena harga aneh itu saya alami hanya di 2 kali terakhir masa petik atau sekitar 10% dari total panen kami. Istri saya masih bisa beli susu untuk anak kami. Tapi saya teringat Mang Ruk, petani gurem tetangga kami, juga puluhan petani lain, yang baru saja melakukan <i>nyikalan </i>(sunda: masa petik pertama). Ancaman kerugian total ada di depan mata mereka.</p>
<p>Seminggu sebelum lebaran, harga tomat di Lembang juga menyentuh dasar. Bandar cuma mau beli 300 rupiah per kg di pinggir kebun. Praktis petani tidak dapat apa-apa. Namun ketika itu saya kira mekanisme pasar menjadi penyebabnya. Banyak petani ingin meraih untung saat tingginya harga sayur menjelang hari raya. Akibat tidak adanya sistem informasi tanam, akibatnya barang berlebih sehingga harga hancur.</p>
<p>Yang terjadi saat ini tidak masuk di akal saya. Di supemarket masih 7000 rupiah per kg dan di pasar tradisional 4000 rupiah per kg, kenapa harga hanya 100 rupiah di kebun?</p>
<p>Selain pedagang-pedagang di pasar tradisional yang memang perlu diusahakan mendapat keadilan&#8211;umumnya mereka masih bisa mengais keuntungan, walaupun kecil bila dibanding hipermarket&#8211;para petani gurem penghasil kol, brokoli, tomat, buncis, kentang, dll yang menyehatkan itu juga perlu diupayakan memperoleh keadilan.</p>
<p>Bandar-bandar penentu harga seenak udel itu sudah perlu ditandingi. Mereka bergerak sangat cepat, dan siap memenuhi kebutuhan petani gurem, mulai dari pinjaman modal tanam sampai tambalang kebutuhan makan keluarga petani menjelang panen (dengan mengijon), jauh lebih cepat dan fleksibel ketimbang bank pemerintah yang katanya &#8220;pro rakyat&#8221; sekalipun.</p>
<p>Siapa punya gagasan?<br />
Atau kita masih bengong terpaku terpesona dengan kedatangan Muhammad Yunus sekian bulan lalu?</p>
<p>horas!<br />
erwin</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wastu.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wastu.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wastu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wastu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wastu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wastu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wastu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wastu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wastu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wastu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wastu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wastu.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wastu.wordpress.com&blog=259484&post=5&subd=wastu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wastu.wordpress.com/2008/01/03/cep-hari-ini-tomat-kita-tidak-usah-dipetik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eda7cfef73b0b0b174bf1883a35f5f4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wastu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pak Raji itu Ternyata&#8230;</title>
		<link>http://wastu.wordpress.com/2007/11/11/pak-raji-itu-ternyata/</link>
		<comments>http://wastu.wordpress.com/2007/11/11/pak-raji-itu-ternyata/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Nov 2007 20:33:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wastu</dc:creator>
				<category><![CDATA[lucu]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wastu.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Tadi sore saya menjenguk istri tukang kami yg baru melahirkan sekitar pukul 17 di bidan dekat terminal Dago. Dalam perjalanan mengantar pulang, saya bicara dengan keluarganya tentang biaya persalinan dll. Ibu mertua tukang kami bilang: “Tadinya mau bawa ke Pak Raji, supaya lebih murah. Di Pak Raji paling mahal dua ratus ribu. Tapi orangnya baru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wastu.wordpress.com&blog=259484&post=6&subd=wastu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="left">Tadi sore saya menjenguk istri tukang kami yg baru melahirkan sekitar pukul 17 di bidan dekat terminal Dago. Dalam perjalanan mengantar pulang, saya bicara dengan keluarganya tentang biaya persalinan dll. Ibu mertua tukang kami bilang: “Tadinya mau bawa ke Pak Raji, supaya lebih murah. Di Pak Raji paling mahal dua ratus ribu. Tapi orangnya baru meninggal”.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">Astaga! Saya sudah sering dengar nama Pak Raji. Lelaki yang menurut saya hebat, sangat baik, dan berjasa pada ibu-ibu hamil di desa kami. Bahkan ketika berkunjung ke desa lain yang jauh, saya dengar ibu-ibu di sana melahirkan ditolong oleh Pak Raji juga.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left"><span id="more-6"></span>Saya pun berkomentar, “Kapan meninggalnya? Kalau Pak Raji sudah meninggal, nanti semua orang desa yang melahirkan harus ke bidan, dong. Biayanya kan mahal, 600 ribu lebih.”<br />
Istri saya bingung dengar pernyataan saya. &#8220;Kan bisa ke Pak Raji&#8221;, katanya.<br />
Gantian saya yang bengong, &#8220;Lho, Pak Raji kan sudah meninggal?&#8221;<br />
&#8220;Nggak semua Pak Raji meninggal. Jangan-jangan&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Ha, Pak Raji itu bukan Bapak Raji?&#8221;<br />
&#8220;Bukan, Paraji itu dukun beranak.&#8221;<br />
&#8220;Jadi, bisa perempuan juga?&#8221;<br />
&#8220;Malah hampir semuanya perempuan.&#8221;</p>
<div align="left"></div>
<p align="left"><i>Gebleg! </i>Setahun lebih di kepala saya tertanam seorang lelaki bernama Raji yang selalu siap sedia membantu ibu-ibu di desa melahirkan. Baru terkoreksi sekitar dua jam lalu.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">horas!<br />
erwin</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wastu.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wastu.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wastu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wastu.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wastu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wastu.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wastu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wastu.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wastu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wastu.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wastu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wastu.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wastu.wordpress.com&blog=259484&post=6&subd=wastu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wastu.wordpress.com/2007/11/11/pak-raji-itu-ternyata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eda7cfef73b0b0b174bf1883a35f5f4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wastu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Singing Fisherman</title>
		<link>http://wastu.wordpress.com/2005/03/14/the-singing-fisherman/</link>
		<comments>http://wastu.wordpress.com/2005/03/14/the-singing-fisherman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2005 02:29:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wastu</dc:creator>
				<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[toba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wastu.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Ada banyak hal menarik saya alami di Samosir. Salah satunya ada penginapan yang sangat murah. Kami menginap di Liberta Homestay (Rp 25ribu-50ribu per hari per cottage, air panas, dan SANGAT BERSIH. Teman saya bilang di Bali yang seperti ini bisa puluhan kali lipat biaya sewanya). Lokasinya 150 m di sebelah kiri dermaga Tuktuk. Pemiliknya orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wastu.wordpress.com&blog=259484&post=8&subd=wastu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="left">Ada banyak hal menarik saya alami di Samosir. Salah satunya ada penginapan yang sangat murah. Kami menginap di Liberta Homestay (Rp 25ribu-50ribu per hari per <i>cottage</i>, air panas, dan SANGAT BERSIH. Teman saya bilang di Bali yang seperti ini bisa puluhan kali lipat biaya sewanya). Lokasinya 150 m di sebelah kiri dermaga Tuktuk. Pemiliknya orang Jerman, dan dilihat dari buku tamunya, banyak diinapi tamu asing yang bisa menginap sampai bulanan. Enam bangunannya merupakan modifikasi dari rumah adat yang dibeli dari penduduk asli. Hanya ada 8 kamar. Jadi tiap <i>cottage </i>berbeda satu dengan lainnya. Di sana tamu bisa ikut masak.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left"><span id="more-8"></span>Saya pilih tinggal di bangunan dua lantai di pinggir danau, 40 ribu rupiah semalam. Kamar tidurnya di bagian atas menghadap ke danau. Pagi pertama saya bangun pagi sekitar pukul 6.00. Masih gelap. Saya tenteng kamera dan tripod, berharap ada buruan yang bisa dijepret. Samar-samar saya lihat beberapa nelayan berperahu kecil (isi satu orang) lalu lalang. Satu dua kali saya jepret. Tiba-tiba saya dengar dari salah satu perahu, seorang bernyanyi. Ya, nelayan itu bernyanyi. Sangat indah. Saya pun tidak lagi berkonsentrasi mengambil gambar. Apa yang lebih nikmat dari berada di pinggir danau pagi-tiba, belum terlalu terang, meskipun samar-samar masih bisa melihat gerakan perahu-perahu kecil jarak 25-50 meter, mendengar gemercik suara air danau dan angin pagi terdengar sayup-sayup, dan suara senandung indah langsung dari nelayan itu? Sekitar 15 menit saya sangat menikmati hal itu. Ah, hal yang takkan pernah ada di kota! (Hehe&#8230; di Bandung pun saya sedang berencana migrasi ke Lembang.) Pada waktu sarapan saya sempat ceritakan itu ke teman saya. Setiap pagi saya menikmati sarapan mewah berupa nyanyian dari pinggiran danau.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">Hari ke-3, kami baca di sebuah papan sekitar 200m dari tempat kami menginap, tepatnya di Bagus Bay, ada acara tradisional dance dan batak folk song. Kawan saya yang paginya sudah sangat senang satu jam lebih disuguhi dan ikut tortor di Simanindo, berminat ikut acara itu. Apalagi gratis, hanya pesan makanan. Kami hanya pesan nescafe dan kentang goreng karena sebelumnya kami sudah makan ikan di Tabo (<i>yummy</i>!). Tamu tidak banyak, hanya sekitar 15 orang, cuma kami yang orang lokal. Sesi pertama tortor dibawakan anak-anak. Pembawa acara&#8211;yang tiga hari sebelumnya sempat menawarkan kami kamar di parapat, tapi kami sudah pilih Liberta&#8211;membawakan acara, selain juga bermain gitar, dengan menyenangkan. Penuh humor. Dia memperkenalkan pemain gondangnya sbg Bob Maruli (Ha!). Acaranya cukup menarik, kami semua ikut menari.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">Setelah istirahat sebentar, masuklah sesi dua Batak Folk Song. Bisa diduga, urusan menyanyi, mantaplah. Bulai-bulai itu (dan kami pun) cukup terkesima mendengar suara penyanyinya. Sigulempong, Lisoi, Maragam-ragam, dan Si Togol, semua terdengar menyenangkan. Mungkin karena didengar langsung di daerahnya. Teman saya pun berbisik, &#8220;Yang pake baju merah itu polos sekali. Gerakannya sederhana. Bajunya sederhana. Tapi suaranya bagus sekali.&#8221; Saya pun bilang sepintas, &#8220;Bisa aja siang hari tadi, dia bertani, dan paginya menangkap ikan.&#8221; Kami menikmati acara itu sampai selesai. Ikut menyanyi dan joget.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">Selesai acara kami sepakat ingin menyapa si penyanyi berkaos merah. Ternyata dia lebih dulu menyapa, &#8220;Liberta, kan?&#8221; Kami bengong, &#8220;Kok tau, Bang?&#8221;, tanya saya. &#8220;Aku yang tiap pagi lihat kau di pinggir danau,&#8221; katanya. Kamipun bersalaman. &#8220;Harianja,&#8221; ia menyebut marganya. Saya ungkapkan padanya bahwa hari pertama mendengar suaranya dari perahu saya menangis merasakan keindahan itu. Selanjutnya kami berbincang-bincang soal banyak hal, termasuk soal kesulitan masyarakat Samosir akibat terpuruknya pariwisata.*** Kami pun pamit duluan karena seharian sudah jalan kaki ke banyak tempat. Teman saya bilang, orang baik yang bekerja keras seperti Bang Harianja seharusnya kaya. Saya bilang, &#8220;Dia bekerja, dia bernyanyi, dia menghibur kita dan banyak orang. Dia bahagia&#8221;.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">Besoknya, saya kembali bangun pagi. Ingin menikmati sarapan mewah, dan kali ini harus sampai berhasil menjepretnya. Kali ini saya menunggu Bang Harianja sampai menepi. Saya lihat dia berhasil membawa 2 ikan sekitar sekiloan. Kami pun saling menyapa. &#8220;Bang, aku foto ya?&#8221; &#8220;Asal bagus kau bikin,&#8221; katanya sambil tersenyum. Saya foto dia beberapa kali, lalu berpamitan. &#8220;Aku mau kasih judul foto ini The Singing Fisherman,&#8221; kata saya. Dia tertawa.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">Pada waktu sarapan saya ngobrol lagi dengan teman. Cerita kalau Bang Harianja tadi berhasil dapat 2 ekor ikan. Dia timpali, &#8220;Harusnya kamu tadi kasih 5 roti yang kita beli kemarin. Biar jadi 5 roti dan 2 ikan&#8221;. Harusnya begitu, ya. Padahal kami punya 10 roti nikmat seharga seribuan, <i>home made</i>, yang kami pesan khusus tanpa isi dari toko roti Samuel di bukit kecil dalam perjalanan ke Tomok. Ah, penyakit telmi saya ini belum juga hilang.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">Lain kalilah, Bang, kalau kita bertemu lagi.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">Horas!</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">erwin</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">***Dalam banyak obrol-obrol dengan pedagang, pemandu wisata, pengelola penginapan, dll. rata-rata bilang pariwisata Toba jatuh mulai sejak bom Bali (dan banyak kerusuhan lain), kemudian Tsunami, dan terakhir cukup banyak turis asal Malaysia yang tadinya mau ke sana membatalkan karena khawatir akan &#8220;diganyang&#8221;.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wastu.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wastu.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wastu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wastu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wastu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wastu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wastu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wastu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wastu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wastu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wastu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wastu.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wastu.wordpress.com&blog=259484&post=8&subd=wastu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wastu.wordpress.com/2005/03/14/the-singing-fisherman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eda7cfef73b0b0b174bf1883a35f5f4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wastu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>