<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>wastu &#187; perjalanan</title>
	<atom:link href="http://wastu.wordpress.com/category/perjalanan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wastu.wordpress.com</link>
	<description>Just another Wordpress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 31 Jan 2008 05:20:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='wastu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/e043219b357e0a7379ca2944f5736cbb?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>wastu &#187; perjalanan</title>
		<link>http://wastu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wastu.wordpress.com/osd.xml" title="wastu" />
		<item>
		<title>The Singing Fisherman</title>
		<link>http://wastu.wordpress.com/2005/03/14/the-singing-fisherman/</link>
		<comments>http://wastu.wordpress.com/2005/03/14/the-singing-fisherman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2005 02:29:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erwinthon P. Napitupulu</dc:creator>
				<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[toba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wastu.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Ada banyak hal menarik saya alami di Samosir. Salah satunya ada penginapan yang sangat murah. Kami menginap di Liberta Homestay (Rp 25ribu-50ribu per hari per cottage, air panas, dan SANGAT BERSIH. Teman saya bilang di Bali yang seperti ini bisa puluhan kali lipat biaya sewanya). Lokasinya 150 m di sebelah kiri dermaga Tuktuk. Pemiliknya orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wastu.wordpress.com&blog=259484&post=8&subd=wastu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="left">Ada banyak hal menarik saya alami di Samosir. Salah satunya ada penginapan yang sangat murah. Kami menginap di Liberta Homestay (Rp 25ribu-50ribu per hari per <i>cottage</i>, air panas, dan SANGAT BERSIH. Teman saya bilang di Bali yang seperti ini bisa puluhan kali lipat biaya sewanya). Lokasinya 150 m di sebelah kiri dermaga Tuktuk. Pemiliknya orang Jerman, dan dilihat dari buku tamunya, banyak diinapi tamu asing yang bisa menginap sampai bulanan. Enam bangunannya merupakan modifikasi dari rumah adat yang dibeli dari penduduk asli. Hanya ada 8 kamar. Jadi tiap <i>cottage </i>berbeda satu dengan lainnya. Di sana tamu bisa ikut masak.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left"><span id="more-8"></span>Saya pilih tinggal di bangunan dua lantai di pinggir danau, 40 ribu rupiah semalam. Kamar tidurnya di bagian atas menghadap ke danau. Pagi pertama saya bangun pagi sekitar pukul 6.00. Masih gelap. Saya tenteng kamera dan tripod, berharap ada buruan yang bisa dijepret. Samar-samar saya lihat beberapa nelayan berperahu kecil (isi satu orang) lalu lalang. Satu dua kali saya jepret. Tiba-tiba saya dengar dari salah satu perahu, seorang bernyanyi. Ya, nelayan itu bernyanyi. Sangat indah. Saya pun tidak lagi berkonsentrasi mengambil gambar. Apa yang lebih nikmat dari berada di pinggir danau pagi-tiba, belum terlalu terang, meskipun samar-samar masih bisa melihat gerakan perahu-perahu kecil jarak 25-50 meter, mendengar gemercik suara air danau dan angin pagi terdengar sayup-sayup, dan suara senandung indah langsung dari nelayan itu? Sekitar 15 menit saya sangat menikmati hal itu. Ah, hal yang takkan pernah ada di kota! (Hehe&#8230; di Bandung pun saya sedang berencana migrasi ke Lembang.) Pada waktu sarapan saya sempat ceritakan itu ke teman saya. Setiap pagi saya menikmati sarapan mewah berupa nyanyian dari pinggiran danau.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">Hari ke-3, kami baca di sebuah papan sekitar 200m dari tempat kami menginap, tepatnya di Bagus Bay, ada acara tradisional dance dan batak folk song. Kawan saya yang paginya sudah sangat senang satu jam lebih disuguhi dan ikut tortor di Simanindo, berminat ikut acara itu. Apalagi gratis, hanya pesan makanan. Kami hanya pesan nescafe dan kentang goreng karena sebelumnya kami sudah makan ikan di Tabo (<i>yummy</i>!). Tamu tidak banyak, hanya sekitar 15 orang, cuma kami yang orang lokal. Sesi pertama tortor dibawakan anak-anak. Pembawa acara&#8211;yang tiga hari sebelumnya sempat menawarkan kami kamar di parapat, tapi kami sudah pilih Liberta&#8211;membawakan acara, selain juga bermain gitar, dengan menyenangkan. Penuh humor. Dia memperkenalkan pemain gondangnya sbg Bob Maruli (Ha!). Acaranya cukup menarik, kami semua ikut menari.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">Setelah istirahat sebentar, masuklah sesi dua Batak Folk Song. Bisa diduga, urusan menyanyi, mantaplah. Bulai-bulai itu (dan kami pun) cukup terkesima mendengar suara penyanyinya. Sigulempong, Lisoi, Maragam-ragam, dan Si Togol, semua terdengar menyenangkan. Mungkin karena didengar langsung di daerahnya. Teman saya pun berbisik, &#8220;Yang pake baju merah itu polos sekali. Gerakannya sederhana. Bajunya sederhana. Tapi suaranya bagus sekali.&#8221; Saya pun bilang sepintas, &#8220;Bisa aja siang hari tadi, dia bertani, dan paginya menangkap ikan.&#8221; Kami menikmati acara itu sampai selesai. Ikut menyanyi dan joget.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">Selesai acara kami sepakat ingin menyapa si penyanyi berkaos merah. Ternyata dia lebih dulu menyapa, &#8220;Liberta, kan?&#8221; Kami bengong, &#8220;Kok tau, Bang?&#8221;, tanya saya. &#8220;Aku yang tiap pagi lihat kau di pinggir danau,&#8221; katanya. Kamipun bersalaman. &#8220;Harianja,&#8221; ia menyebut marganya. Saya ungkapkan padanya bahwa hari pertama mendengar suaranya dari perahu saya menangis merasakan keindahan itu. Selanjutnya kami berbincang-bincang soal banyak hal, termasuk soal kesulitan masyarakat Samosir akibat terpuruknya pariwisata.*** Kami pun pamit duluan karena seharian sudah jalan kaki ke banyak tempat. Teman saya bilang, orang baik yang bekerja keras seperti Bang Harianja seharusnya kaya. Saya bilang, &#8220;Dia bekerja, dia bernyanyi, dia menghibur kita dan banyak orang. Dia bahagia&#8221;.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">Besoknya, saya kembali bangun pagi. Ingin menikmati sarapan mewah, dan kali ini harus sampai berhasil menjepretnya. Kali ini saya menunggu Bang Harianja sampai menepi. Saya lihat dia berhasil membawa 2 ikan sekitar sekiloan. Kami pun saling menyapa. &#8220;Bang, aku foto ya?&#8221; &#8220;Asal bagus kau bikin,&#8221; katanya sambil tersenyum. Saya foto dia beberapa kali, lalu berpamitan. &#8220;Aku mau kasih judul foto ini The Singing Fisherman,&#8221; kata saya. Dia tertawa.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">Pada waktu sarapan saya ngobrol lagi dengan teman. Cerita kalau Bang Harianja tadi berhasil dapat 2 ekor ikan. Dia timpali, &#8220;Harusnya kamu tadi kasih 5 roti yang kita beli kemarin. Biar jadi 5 roti dan 2 ikan&#8221;. Harusnya begitu, ya. Padahal kami punya 10 roti nikmat seharga seribuan, <i>home made</i>, yang kami pesan khusus tanpa isi dari toko roti Samuel di bukit kecil dalam perjalanan ke Tomok. Ah, penyakit telmi saya ini belum juga hilang.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">Lain kalilah, Bang, kalau kita bertemu lagi.</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">Horas!</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">erwin</p>
<div align="left"></div>
<p align="left">***Dalam banyak obrol-obrol dengan pedagang, pemandu wisata, pengelola penginapan, dll. rata-rata bilang pariwisata Toba jatuh mulai sejak bom Bali (dan banyak kerusuhan lain), kemudian Tsunami, dan terakhir cukup banyak turis asal Malaysia yang tadinya mau ke sana membatalkan karena khawatir akan &#8220;diganyang&#8221;.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wastu.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wastu.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wastu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wastu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wastu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wastu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wastu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wastu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wastu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wastu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wastu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wastu.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wastu.wordpress.com&blog=259484&post=8&subd=wastu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wastu.wordpress.com/2005/03/14/the-singing-fisherman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eda7cfef73b0b0b174bf1883a35f5f4f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Erwin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>