Apa Saya Tak Berperikemanusiaan?

By Erwinthon P. Napitupulu

Setiap ada kematian, pasti ada duka. Saya berduka untuk sepupu pembantu kami yg dua hari lalu kehilangan bayi dalam kandungannya karena terlalu lelah melakukan perjalanan dengan bus ekonomi ke Jawa. Saya juga berduka ketika ketika 4 hari lalu, 2 orang warga kampung sebelah meninggal kena petir. Tapi sejujurnya, mengetahui Soeharto meninggal Minggu siang, tidak ada duka muncul di hati saya. Tidak juga ada syukur. Biasa saja.

Apa saya tak berperikemanusiaan? Entahlah.

Saya memang tidak pernah menjadi korban langsung dari kekejaman Soeharto. Yang saya ingat ketika Soeharto sedang jaya-jayanya, menyebut namanya dalam konotasi negatif pun harus bisik-bisik. Lebih menakutkan daripada bicara tentang makhluk halus, yg bisa dengan bebas kita lakukan di ruang-ruang terbuka.

Saya pun sudah terjebak dalam sistem bobrok yg tercipta selama rezim Soeharto berkuasa. Dua puluh ribu rupiah uang damai di jalan jauh lebih mudah ketimbang bolak-balik ke kantor polisi dan pengadilan tilang yang pernah saya alami, yang ujung-ujungnya juga harus kasih uang pelicin.

Saya pasti akan lebih memendam marah dan tetap terus menuntut keadilan, jika saya atau keluarga saya termasuk yang menjadi korban langsung rezim Soeharto. Seperti yang dialami oleh beberapa kawan saya pada peristiwa 5 Agustus di ITB, seperti keluarga-keluarga korban peristiwa 27 Juli, seperti keluarga korban peristiwa pencaplokan Timor-Timur tengah tahun 70-an, seperti sebagian besar etnis Tionghoa yang dipinggirkan selama Soeharto berkuasa, seperti keluarga dari ratusan ribu orang yang dibunuh saat Soeharto mulai berkuasa, seperti hampir semua petani-nelayan-buruh yang (di)miskin(kan) dan (di)bodoh(kan) selama dia berkuasa, seperti orang-orang yang dihilangkan menjelang kejatuhan Soeharto, seperti ratusan atau mungkin ribuan peristiwa lain yang menunjukkan bahwa kita pernah mengalami (dan masih merasakan dampak) zaman kegelapan. Salah satu yang terlihat jelas saat ini adalah pelaksanaan pilkada.

Apakah hal berbeda akan terjadi jika Soekarno digantikan bukan oleh Soeharto? Belum tentu juga. Tapi, yang pasti semua kegelapan di atas, terjadi pada saat rezim Soeharto berkuasa.

Soeharto Bapak Pembangunan? Ya, Bapak Pembangunan keluarga dan kroni-kroninya.

Apa saya tak berperikemanusiaan? Terserah. Lantaklah. Prek.

horas!
erwin

nb.
Matikan TV hari-hari ini jika Anda termasuk orang yang mudah terpengaruh. Ulasan-ulasan di TV sudah sangat bias dan tercemar. Semoga perburuan harta Soeharto (dan keluarga serta kroninya) yang dilakukan Bung Fadjroel dkk akan terus dilakukan.

Tag:

Satu Tanggapan ke “Apa Saya Tak Berperikemanusiaan?”

  1. Mr WordPress Berkata:

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

Tinggalkan Balasan