Hari ini dari kampung sebelah terdengar gosip baru. Sebuah kelompok usaha besar yg membutuhkan susu dalam jumlah besar untuk produksinya, akan menyaingi kebaradaan koperasi susu (satu-satunya?) yang sudah lama berlenggang di Lembang. Dengar-dengar terobosan ini tercipta karena suplai susu lokal ke kelompok usaha itu dibatasi sehingga mereka harus mengimpor (lebih mahal!)
Tengok apa yang ditawarkan: Jika mereka mau pindah setor penjualan susu ke usaha milik kelompok usaha besar itu, (calon) peternak ditawari pinjaman Rp 25 juta untuk membeli 2 ekor sapi perah + membuat/menambah kandangnya. Mereka hanya diwajibkan mencicil pembayaran pinjaman itu hanya dengan membayar 6 liter susu per hari selama 5 tahun. Susu sapi lebihnya yang sekitar 25 liter per hari, tetap dibayar normal. Tentu ini berita baik untuk peternak sapi, apalagi peternak gurem.
Tambahan daya tarik lainnya: harga susu yang dibeli Rp 200/liter lebih tinggi ketimbang yg ditawarkan koperasi saat ini. Dan dukungan makanan tambahan sapi (mako) dijual dengan harga lebih murah sekitar 20%-nya.Jika dirinci, maka dari 25 juta pinjaman dari kelompok usaha itu akan kembali dalam bentuk cicilan harian sebesar Rp 3500/liter x 1825 hari x 6 liter = Rp 38.325.000. Ini kalau harga susu dihitung tetap. Bukan kelebihan sekitar 53% dalam 3 tahun itu yang terpenting, tapi terpenuhinya kebutuhan susu kelompok usaha itu, dari pada mereka harus mengimpor dari Australia yang katanya seharga Rp 5000/liter.
Semoga saja gosip itu benar dan akan terwujud. Begitu dong kalau cari terobosan usaha: Memanfaatkan potensi kelompok gurem dengan memberikan keadilan dan keuntungan kepada mereka.
Mari berbisnis dengan memberikan keadilan kepada semua pelaku.
horas!
erwin