Cep, Hari Ini Tomat Kita Tidak Usah Dipetik….

By wastu

“Cep, hari ini tomat kita tidak usah dipetik, ya…. Biarkan saja di kebun.”
“Kenapa, Mang Tisman?” tanya saya.
“Bandar cuma mau beli tomat sepuluh ribu sepeti. Sepeti isinya 35 kg. Harga petinya saja sudah tujuh ribu. Ongkos petik dan bawa ke mobil 100 sekilo. Jadi kalo kita petik kita malah harus nombok.”
“Lho, Mang. Kakak saya baru beli tomat di supermarket 7000 sekilo. Ibu saya beli di pasar 4000 sekilo.”

***

Kemarin pagi, Mang Tisman, petani mitra saya menelepon memberi tahu berita ini. Ah, akhirnya saya mengalami lagi keanehan itu. Sepuluh kali panen pertama selama sebulan terakhir saya alami harga yang cukup baik, 2000-2400 rupiah per kg. Jauh di atas modal yang sekitar 800 rupiah per kg. Ketika itu harga di pasar tradisional sekitar 4000-6000 rupiah per kg. Kami–saya dan Mang Tisman–memang masih untung karena harga aneh itu saya alami hanya di 2 kali terakhir masa petik atau sekitar 10% dari total panen kami. Istri saya masih bisa beli susu untuk anak kami. Tapi saya teringat Mang Ruk, petani gurem tetangga kami, juga puluhan petani lain, yang baru saja melakukan nyikalan (sunda: masa petik pertama). Ancaman kerugian total ada di depan mata mereka.

Seminggu sebelum lebaran, harga tomat di Lembang juga menyentuh dasar. Bandar cuma mau beli 300 rupiah per kg di pinggir kebun. Praktis petani tidak dapat apa-apa. Namun ketika itu saya kira mekanisme pasar menjadi penyebabnya. Banyak petani ingin meraih untung saat tingginya harga sayur menjelang hari raya. Akibat tidak adanya sistem informasi tanam, akibatnya barang berlebih sehingga harga hancur.

Yang terjadi saat ini tidak masuk di akal saya. Di supemarket masih 7000 rupiah per kg dan di pasar tradisional 4000 rupiah per kg, kenapa harga hanya 100 rupiah di kebun?

Selain pedagang-pedagang di pasar tradisional yang memang perlu diusahakan mendapat keadilan–umumnya mereka masih bisa mengais keuntungan, walaupun kecil bila dibanding hipermarket–para petani gurem penghasil kol, brokoli, tomat, buncis, kentang, dll yang menyehatkan itu juga perlu diupayakan memperoleh keadilan.

Bandar-bandar penentu harga seenak udel itu sudah perlu ditandingi. Mereka bergerak sangat cepat, dan siap memenuhi kebutuhan petani gurem, mulai dari pinjaman modal tanam sampai tambalang kebutuhan makan keluarga petani menjelang panen (dengan mengijon), jauh lebih cepat dan fleksibel ketimbang bank pemerintah yang katanya “pro rakyat” sekalipun.

Siapa punya gagasan?
Atau kita masih bengong terpaku terpesona dengan kedatangan Muhammad Yunus sekian bulan lalu?

horas!
erwin

Tag: ,

Satu Tanggapan ke “Cep, Hari Ini Tomat Kita Tidak Usah Dipetik….”

  1. Junaidi Karo Karo Kacaribu Berkata:

    tomat lagi tomat lagi

Tinggalkan Balasan