Tadi sore saya menjenguk istri tukang kami yg baru melahirkan sekitar pukul 17 di bidan dekat terminal Dago. Dalam perjalanan mengantar pulang, saya bicara dengan keluarganya tentang biaya persalinan dll. Ibu mertua tukang kami bilang: “Tadinya mau bawa ke Pak Raji, supaya lebih murah. Di Pak Raji paling mahal dua ratus ribu. Tapi orangnya baru meninggal”.
Astaga! Saya sudah sering dengar nama Pak Raji. Lelaki yang menurut saya hebat, sangat baik, dan berjasa pada ibu-ibu hamil di desa kami. Bahkan ketika berkunjung ke desa lain yang jauh, saya dengar ibu-ibu di sana melahirkan ditolong oleh Pak Raji juga.
Saya pun berkomentar, “Kapan meninggalnya? Kalau Pak Raji sudah meninggal, nanti semua orang desa yang melahirkan harus ke bidan, dong. Biayanya kan mahal, 600 ribu lebih.”
Istri saya bingung dengar pernyataan saya. “Kan bisa ke Pak Raji”, katanya.
Gantian saya yang bengong, “Lho, Pak Raji kan sudah meninggal?”
“Nggak semua Pak Raji meninggal. Jangan-jangan…”
“Ha, Pak Raji itu bukan Bapak Raji?”
“Bukan, Paraji itu dukun beranak.”
“Jadi, bisa perempuan juga?”
“Malah hampir semuanya perempuan.”
Gebleg! Setahun lebih di kepala saya tertanam seorang lelaki bernama Raji yang selalu siap sedia membantu ibu-ibu di desa melahirkan. Baru terkoreksi sekitar dua jam lalu.
horas!
erwin
Tag: kampung