Apa Saya Tak Berperikemanusiaan?

Januari 28, 2008 by wastu

Setiap ada kematian, pasti ada duka. Saya berduka untuk sepupu pembantu kami yg dua hari lalu kehilangan bayi dalam kandungannya karena terlalu lelah melakukan perjalanan dengan bus ekonomi ke Jawa. Saya juga berduka ketika ketika 4 hari lalu, 2 orang warga kampung sebelah meninggal kena petir. Tapi sejujurnya, mengetahui Soeharto meninggal Minggu siang, tidak ada duka muncul di hati saya. Tidak juga ada syukur. Biasa saja.

Apa saya tak berperikemanusiaan? Entahlah.

Baca entri selengkapnya »

Ketika Kampung Kami Diserbu Anak Kota

Januari 11, 2008 by wastu

Pagi ini rumah kami dikunjungi 46 murid sebuah SMP terkenal di kawasan Menteng Jakarta. Bulan lalu beberapa gurunya datang dan minta agar murid-muridnya diperkenalkan pada apa yang namanya “ekonomi pertanian” untuk pelajaran ekonomi dan sedikit praktik tentang budidaya kaktus utk pelajaran biologi. Saya menyanggupinya.

Saya menyambut kedatangan mereka di lapangan desa karena bis besar yang mengangkut mereka hanya bisa berhenti di sana. Dan kamipun berjalan kaki sekitar 600 m ke rumah.Sampai di rumah, ternyata di pinggir rumah kami sudah ada sekitar 5 orang pedagang asesoris a la Lembang dan pedagang stroberi. Astaga! Tahu dari mana mereka? Saya tidak pernah menceritakan rencana ini ke warga kampung kami. Untuk info seperti ini mereka sangat gesit. Entah bagaimana caranya. Jadilah rumah kami pagi ini seperti objek wisata.

Baca entri selengkapnya »

Susu Sapi Makin Marak

Januari 7, 2008 by wastu

Hari ini dari kampung sebelah terdengar gosip baru. Sebuah kelompok usaha besar yg membutuhkan susu dalam jumlah besar untuk produksinya, akan menyaingi kebaradaan koperasi susu (satu-satunya?) yang sudah lama berlenggang di Lembang. Dengar-dengar terobosan ini tercipta karena suplai susu lokal ke kelompok usaha itu dibatasi sehingga mereka harus mengimpor (lebih mahal!)

Tengok apa yang ditawarkan: Jika mereka mau pindah setor penjualan susu ke usaha milik kelompok usaha besar itu, (calon) peternak ditawari pinjaman Rp 25 juta untuk membeli 2 ekor sapi perah + membuat/menambah kandangnya. Mereka hanya diwajibkan mencicil pembayaran pinjaman itu hanya dengan membayar 6 liter susu per hari selama 5 tahun. Susu sapi lebihnya yang sekitar 25 liter per hari, tetap dibayar normal. Tentu ini berita baik untuk peternak sapi, apalagi peternak gurem.

Baca entri selengkapnya »

Cep, Hari Ini Tomat Kita Tidak Usah Dipetik….

Januari 3, 2008 by wastu

“Cep, hari ini tomat kita tidak usah dipetik, ya…. Biarkan saja di kebun.”
“Kenapa, Mang Tisman?” tanya saya.
“Bandar cuma mau beli tomat sepuluh ribu sepeti. Sepeti isinya 35 kg. Harga petinya saja sudah tujuh ribu. Ongkos petik dan bawa ke mobil 100 sekilo. Jadi kalo kita petik kita malah harus nombok.”
“Lho, Mang. Kakak saya baru beli tomat di supermarket 7000 sekilo. Ibu saya beli di pasar 4000 sekilo.”

Baca entri selengkapnya »

Pak Raji itu Ternyata…

Nopember 11, 2007 by wastu

Tadi sore saya menjenguk istri tukang kami yg baru melahirkan sekitar pukul 17 di bidan dekat terminal Dago. Dalam perjalanan mengantar pulang, saya bicara dengan keluarganya tentang biaya persalinan dll. Ibu mertua tukang kami bilang: “Tadinya mau bawa ke Pak Raji, supaya lebih murah. Di Pak Raji paling mahal dua ratus ribu. Tapi orangnya baru meninggal”.

Astaga! Saya sudah sering dengar nama Pak Raji. Lelaki yang menurut saya hebat, sangat baik, dan berjasa pada ibu-ibu hamil di desa kami. Bahkan ketika berkunjung ke desa lain yang jauh, saya dengar ibu-ibu di sana melahirkan ditolong oleh Pak Raji juga.

Baca entri selengkapnya »

The Singing Fisherman

Maret 14, 2005 by wastu

Ada banyak hal menarik saya alami di Samosir. Salah satunya ada penginapan yang sangat murah. Kami menginap di Liberta Homestay (Rp 25ribu-50ribu per hari per cottage, air panas, dan SANGAT BERSIH. Teman saya bilang di Bali yang seperti ini bisa puluhan kali lipat biaya sewanya). Lokasinya 150 m di sebelah kiri dermaga Tuktuk. Pemiliknya orang Jerman, dan dilihat dari buku tamunya, banyak diinapi tamu asing yang bisa menginap sampai bulanan. Enam bangunannya merupakan modifikasi dari rumah adat yang dibeli dari penduduk asli. Hanya ada 8 kamar. Jadi tiap cottage berbeda satu dengan lainnya. Di sana tamu bisa ikut masak.

Baca entri selengkapnya »